#GoWithThePict "Kehilangan"



"Jangan pernah merasa kehilangan, karena sejatinya kita tidak pernah memiliki."



"Kamu sedang apa?"
"Makan."

Semakin sedikit saja balasanmu kali ini. Apakah ini pertanda untukku agar segera pergi?

Kamu berubah. Tak lagi ramah. Tak lagi berusaha menghidupkan pembicaraan. Tak lagi berusaha membangun candaan.

Sering aku bertanya apa yang terjadi denganmu, yang akhirnya sering juga kau jawab dengan kalimat "aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."

Aku kehilangan. Aku kehilangan sosok yang selalu mencemaskanku. Aku kehilangan sesorang yang selalu melindungiku. Aku kehilangan kamu yang (mungkin) mencintaiku.

Aku begitu kehilangan sampai membuatku tersadar aku tidak pernah kehilangan, karena sejatinya aku tidak pernah memiliki.

#NewProject #GoWithThePict "Aku mencintaimu sendiri"


Jadi gini *ehm* saya punya kakak kelas di SMA dulu yang hobi motret. Toy photograpy gitu deh katanya haha. Kebetulan fotonya selalu berseri gitu, jadi di dalam foto terdapat kisah yang ingin diceritakan. Nah suatu hari saya iseng ngetweet "Coba hitung berapa waktu yang kamu sia-siakan demi menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa dirinya sedang ditunggu? " seru-seruan ikutan hashtag #SoalUN :D yang kemudian kak judha mensyen "boleh nih kata2nya buat ide foto." Nah dari situlah kemudian kak judha lanjut meminta untuk dibuatkan beberapa kata-kata mengenai "menunggu" dan "cinta dalam diam". Terciptalah beberapa kalimat. Hingga akhirnya kak judha lapor bahwa semua foto sudah selesai dibuat. Kepikiran akhirnya kenapa gak dibuat cerita aja? Teringat postingan di Tumblr yang mengadakan project menulis #GoWithThePict yang menuntut kita menceritakan sebuah kisah dari sebuah foto atau gambar. Karena untuk menulis kan tidak selalu ada inspirasi. Tidak selamanya kita tahu apa yang ingin kita tulis. Karena sedang menganggur ya mengapa tidak dicoba sambil iseng-iseng. Sampai jadilah sebuah cerita ini. 
Selamat membaca ^^

......................................................................................................................................................................
- Mikasa -

Aku hobi membaca. Menurutku membaca dapat membawaku kemana pun aku ingin pergi. Membawaku ke waktu kapan pun yang ingin aku datangi.
Aku terbiasa membaca di taman dekat rumahku, dan akhir-akhir ini ada yang lebih menarik perhatianku daripada buku. Dia sering duduk di bangku yang aku tempati. Lalu akhirnya aku sadari, aku telah jatuh hati.

 
"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu dalam bisu." - Mikasa

 Lelaki yang bahkan aku tak tahu siapa namanya. Sekarang alasanku ke taman bukan lagi untuk membaca, melainkan untuk hanya sekedar bertemu dengannya, berharap bertegur sapa. Tapi aku hanya bisa berharap. Tak lebih.

"Bahkan dalam diamku, aku selalu mengharapmu." - Mikasa 

 Segala cara sudah kulakukan agar dia mau memulai pembicaraan. Karena jika aku yang memulai sepertinya mustahil.
Aku sudah berpura-pura meninggalkan bukuku agar dia bisa mengembalikannya padaku. Tapi hasilnya nihil. Dia sama sekali tidak menghiraukannya. Dia tak acuh. Dia tak peduli. Mungkin memang dia tak tertarik padaku.

 
"Menunggu itu melelahkan. Terlebih menunggu yang kita tahu tak mungkin datang." - Mikasa


Sudah hampir setahun ini aku selalu duduk di sampingnya. Membaca dan terus membaca sambil berharap suatu saat dia akan mulai menyapa. Tapi akhirnya aku pun menyadari, apakah akan selamanya seperti ini? Selamanya hanya menunggu. Menunggu ia yang tak mungkin datang.

"Akan ada saatnya nanti kamu akan menyadari, bahwa seseorang yang layak ditunggu tidak akan membuatmu menunggu." - Mikasa

......................................................................................................................................................................
- Woody -

Aku baru saja pindah ke kota tempat kelahiranku dulu. Aku dibesarkan di kota ini sampai usiaku 5 tahun, sampai kami pindah dikarenakan ayah kena phk.
Hari itu aku sedang berjalan-jalan di taman tempatku dulu dibesarkan. Hingga ada seseorang yang menarik perhatianku. Seseorang yang sangat manis sedang membaca buku. Seseorang yang hanya dengan pandangan pertama saja membuatku jatuh cinta.

"Aku mencintaimu sendiri. Aku mencintaimu tanpa pernah kamu sadari." - Woody

Semenjak hari itu aku sering mendatangi taman sambil duduk di sampingnya. Tapi hanya itu, hanya itu yang mampu aku lakukan. Aku tak memiliki kepercayaan diri untuk memulai perkenalan dan mengajaknya berbincang.

"Bahkan dalam diamku, aku berharap kamu menyadari perasaanku." - Woody
 
Segala cara sudah kulakukan agar dia mau memulai pembicaraan. Karena jika aku yang memulai sepertinya mustahil.

Aku sudah berpura-pura meninggalkan sesuatu agar dia bisa mengembalikannya padaku. Tapi hasilnya nihil. Dia sama sekali tidak menghiraukannya. Dia tak acuh. Dia tak peduli. Mungkin memang dia tak tertarik padaku.

"Menunggu itu melelahkan. Terlebih menunggu yang kita tahu tak pasti." - Woody

Sudah hampir setahun ini aku selalu duduk di sampingnya. Sambil terus berusaha memikirkan bagaimana caranya menyapa, tapi tak pernah bisa aku lakukan. Dan akhirnya aku pun menyadari, apakah akan selamanya seperti ini? Selamanya hanya menunggu. Menunggu ia yang tak mungkin datang.


....................................................................................................................................................................
- Mikasa & Woody -

Akhirnya aku menyerah. Menyerah menunggunya. Menunggu dia yang tak akan datang. Menunggu dia yang tak tahu bahwa ada seseorang yang sedang menunggunya.

 ....................................................................................................................................................................
- Woody -

*10 tahun kemudian*

Ternyata banyak yang telah berubah dari taman ini. Hanya 1 hal yang tak berubah, bangku tempatku dulu selalu duduk berdampingan dengannya. Dengan gadis pembaca buku. Begitulah aku menyebutnya. Gadis yang bahkan sampai sekarang tak pernah mampu aku lupakan. Hingga saat ini. Setelah 10 tahun keputusanku untuk tak lagi menunggunya.

"Aku tak pernah pergi pun tidak menghilang. Aku selalu disini. Hanya saja kau yang tak pernah datang." -
Woody


"Coba hitung berapa waktu yang telah kau sia-siakan demi menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa dirinya sedang ditunggu" - Mikasa


Photo by : Judha Perwira
Story by : Evi Mardiani

I Can't Sleep Without You


Ya. Judul diatas sangat picisan sekali
*jangan tanya saya apa arti dari kata picisan karena sesungguhnya saya pun tidak tahu :|*

Saya punya beberapa kebiasaan buruk. Salah satu diantaranya adalah saya tidak akan bisa tertidur tanpa ada orang yang menemani saya tidur. Literally benar-benar menemani saya tidur, di samping saya.

Ya saya akui, dengan umur yang sudah beranjak dewasa gak rela disebut tua saya masih tidak bisa tidur sendiri. Selama ini saya tidur bersama ibu saya. Ayah saya? Beliau tidur sendiri. Jangan tanyakan hal-hal yang lebih jauh lagi :|

Bagaimana bila saya tidur sendiri? Apa yang akan terjadi? 
Saya tidak akan bisa tidur. Hingga pagi.

Entah sejak kapan dan bagaimana kebiasaan buruk ini bermula. Saya pun lelah memiliki kebiasaan ini.
Jangan salah, tidak bisa tidur sampai pagi tapi sebenarnya ingin tidur itu melelahkan, bikin capek sendiri.

Pernah beberapa kali ketika saya kuliah semester 5 atau 6 saya bisa tidur sendiri, di kosan. Tapi hanya 2 atau 3x, sisanya? Saya akan memaksa teman kosan di kamar lain untuk 'mengungsi' ke kamar saya, menemani saya tidur. 
Merekalah yang harus pindah ke kamar saya, bukan saya yang pindah ke kamar mereka. Saya manja? Saya pemaksa? Ya memang. Hahaha.

Pernah beberapa bulan lalu, kebetulan ibu saya menginap di rumah nenek. Saya meyakinkan dan memaksakan diri bahwa saya harus bisa tidur sendiri malam itu. Di rumah tetap ada ayah saya.

1 jam
2 jam
3 jam berlalu

Tetapi tetap mata saya sulit untuk terpejam.
Sampai akhirnya saya menyerah, saya tidak bisa tidur tapi saya ingin tidur. Mengajak ayah saya untuk tidur di kamar saya merupakan sesuatu yang mustahil. 
Dan apa yang saya lakukan? Saya memberanikan diri keluar rumah membangunkan tetangga saya untuk menginap di rumah saya, menemani saya tidur.
Jam 1 pagi.

Entah apa yang saya lakukan saat itu -_-
Terlepas ini kebiasaan buruk atau penyakit atau apapun itu, saya ingin bebas dari kebiasaan buruk ini.
Saya ingin seperti orang lain yang bisa tidur sendiri, tanpa harus ditemani.
Saya ingin seperti orang normal lainnya. 
Somebody help me!


Salam hangat dari epi yang masih belum bisa tidur karena mamih belum juga ke kamar.
Bye.

Romantis Itu.....



Romantis itu bukan perkara seorang lelaki memberikan bunga pada wanita yang disukainya.
Romantis itu bukan tentang seorang wanita menyiapkan bekal makanan untuk lelakinya.
Romantis itu bukan perkara seorang lelaki memberikan coklat di hari kasih sayang.
Romantis itu bukan tentang wanita yang rajin memberikan perhatian.

Romantis itu bukan bagaimana seorang lelaki mengantar jemput sang kekasih.
Romantis itu bukan bagaimana seorang lelaki mengucapkan "i love you" dengan penuh kasih.
Romantis itu bukan bagaimana seorang lelaki rela hujan-hujanan untuk bertemu wanita pujaannya.
Romantis itu bukan bagaimana seorang lelaki memasang display picture dang wanita di sosial media nya.

Tapi romantis itu.......

Romantis itu ketika sang ayah rela memijat kepala anaknya yang sakit.
Romantis itu ketika sang ibu rela menemani anaknya tidur.
Romantis itu ketika sang ayah rela gajinya tersisa sedikit demi keperluan anaknya.
Romantis itu ketika sang ibu rela memasak telur untuk makan anaknya.
Romantis itu ketika sang ayah rela membelikan anaknya durian ketika anaknya meminta di tengah malam.
Romantis itu ketika sang ibu rela tidak menonton acara kesayangan.

Romantis itu adalah tentang perkara bagaimana semua pengorbanan yang ayah ibu berikan pada anaknya. Pengorbanan yang keikhlasannya tak ada yang mampu menandingi.

Definisi romantis itu .......... tinggi tak terperi.

Perpisahan


Selasa, 22 juni 2010

Hari itu, aku masih mengingat dengan jelas perpisahan kami. Perpisahan aku dan Raka. Aku masih mengingat jelas pakaian yang Raka gunakan. Sweater biru dan kaos hitam. Kaos dan sweater kesayangannya. Kado dariku 3 tahun lalu. 

Hari itu, Raka pamit untuk melanjutkan studinya. Hari itu Raka benar-benar pergi meninggalkanku. Entah bagaimana aku mendeskripsikan hubunganku dengannya, tapi yang jelas aku menyayangi pria yang sejak dulu selalu disampingku. 

Hari itu, aku masih mengingat Raka sangat gelisah menunggu jadwal keberangkatannya. Berkali-kali ia melihat arloji yang ia gunakan, mungkin separuh berhaap agar waktu itu tak kunjung datang. Ah mungkin saja itu hanya harapanku.

“kamu kenapa sih gelisah banget?” aku memulai obrolan dengannya berharap dapat mencairkan suasana. Lagi-lagi Raka hanya diam menerawang sambil sesekali menghembusakan napas.

“Aku juga bingung sih, rasanya berat aja buat pergi, harus ninggalin semuanya disini.”

Dan khususnya meninggalkan kamu, Wi…….

Aku berharap kalimat itu juga terucap dari mulutnya. Tapi ternyata tidak.
“Yaudah gausah pergi aja, tinggal aja disini. Kuliah disini. Hehehe.” Aku menggodanya.
“maunya sih gitu, tapi kan demi masa depan. Demi kamu juga nyin hehehe.”
Nyin, adalah panggilannya untukku. 

Deg…
Entah apa maksud ucapannya tadi. Hanya sekedar leluconkah? Atau…..? 

Sudah, jangan berharap lagi. Aku mengingatkan diriku sendiri.

Akhirnya pemberitahuan keberangkatan Raka tedengar. Kami saling berpelukan lama sekali. Pelukan yang mewakili semua kata yang ingin tersampaikan. Tak terasa tetesan air dari mataku jatuh ke pipi. 

“Udah jangan nangis lagi nyin, aku bakal kangen banget nih sama kamu. Kamu jangan sampe pacaran sama cowok brengsek lagi ya. Klo punya pacar jangan lupa kasih tau aku.” Raka menghapus air mataku dan mengusap rambtku. Raka berusaha menenangkanku, dan juga mungkin menguatkan dirinya sendiri.
 
photo by: @judhaperwira

photo by: @judhaperwira

Akhirnya dia pergi.

Dia telah pergi.

Dia tak lagi disampingku.

Selasa, I0 maret 2015
Handphoneku bergetar, terdapat 1 notifikasi pesan singkat.
“aku udah nyampe di bandara nih. Kamu di rumah kan? Aku ke rumah ya. Kangen.”

Aku tersenyum.


 *ps: buat kak judha maapkeun cuma bisa segini*